Sabtu, 07 Juni 2014

Japan Display Inc. Ungkapkan Teknologi “WhiteMagic” untuk Layar Tablet

Meskipun terhitung masih baru di dunia penyuplai perangkat layar untuk gadget, Japan Display Inc. (JDI) yang berdiri pada tahun 2012, sudah berhasil mengembangkan beberapa teknologi terbaru pada jajaran layar yang dirancang untuk perangkat gadget.

Pada akhir April lalu, JDI yang merupakan perusahaan gabungan antara Sony, Hitachi, dan Toshiba ini, dilaporkan telah memproduksi layar LCD terbaru dengan resolusi Ultra-High 4K 3840×2160 pixel, khusus untuk perangkat tablet.
Kali ini, JDI dilaporkan sedang mengembangkan teknologi terbaru yang diberinama WhiteMagic dan dirancang khusus untuk digunakan perangkat tablet. Menurut berita yang kami sadur dari Ubergizmo, layar LCD dengan teknologi WhiteMagic ini memiliki ukuran 7 inci dengan resolusi 2560×1600 pixel, serta kerapatan densitas 431ppi (Pixel per Inch). Selain itu, pihak JDI juga mengklaim bahwa layar LCD yang dilengkapi dengan teknologinya itu akan memiliki sudut pandang lebih baik pada kemiringan 160 derajat.

Salah satu kelebihan dari teknologi WhiteMagic ini adalah memiliki visibilitas lebih baik meskipun pada kondisi di luar ruangan atau dibawah sinar matahari. Bahkan JDI turut mengungkapkan bahwa teknologi WhiteMagic tidak akan mengkonsumsi daya yang terlalu besar.

Sebelumnya, JDI pernah menyisipkan teknologi WhiteMagic pada salah satu smartphone besutan Sony, yaitu Xperia P yang diluncurkan pada 2012 lalu yang memiliki layar berukuran 4 inci. Maka dari itu, JDI ingin berkonsentrasi penuh dalam mengembangkan layar LCD yang dirancang khusus untuk perangkat tablet dengan teknologi WhiteMagic. JDI berharap bahwa pengembangannya itu dapat selesai sesuai dengan yang diharapkan agar dapat mencapai target permintaan pasar tablet.


Sumber : http://www.jagatreview.com/2014/05/japan-display-inc-ungkapkan-teknologi-whitemagic-untuk-layar-tablet/

Riset: Phablet Merusak Penjualan Tablet

Periset pasar teknologi terkemuka, IDC, baru-baru ini mendapatkan laporan terbaru seputar penjualan tablet di seluruh dunia yang cenderung melambat pada tahun ini. Kondisi ini berbeda dari dua tahun terakhir sebelumnya ketika tablet menjadi sebuah perangkat PC alternatif dan terus merusak pasar PC. Namun tahun ini, pasar tablet tengah memasuki masa jenuhnya.

Namun sebaliknya, penjualan smartphone layar besar (di atas 5,5 inci) atau phablet justru menunjukan pertumbuhan signifikan. Dengan demikian, IDC dalam salah satu kesimpulan laporannya mengatakan, penjualan tablet pada tahun ini cenderung melambat karena tingkat adopsi pengguna terhadap phablet justru jauh lebih tinggi.

Phablet merupakan sebuah perangkat mobile perpaduan antara smartphone dan tablet. Sejumlah fitur tertentu yang sebelumnya hanya bisa dinikmati secara maksimal dari masing-masing keduanya, kini menjadi ‘satu paket’ ke dalam phablet. Hal itu mencakup, keperluan komunikasi dan akses cepat di smartphone dan menikmati konten multimedia (video, film, game) bisa dilakukan secara optimal di phablet.

Dalam prediksi pasar terbarunya, IDC mencatat, penjualan tablet tahun ini diperkirakan hanya tumbuh 12,1 persen saja. Kondisi ini berbeda pada tahun lalu yang pertumbuhannya mencapai 51,8 persen. Secara total, bakal ada 245,4 juta unit tablet yang akan terjual pada tahun ini.
Sementara prediksi IDC untuk pasar phablet, penjualannya justru akan tumbuh lebih dari dua kali lipat dari 4,3 persen pada kuartal pertama 2013 menjadi 10,5 persen pada kuartal yang sama tahun ini.

“Terdapat dua masalah utama yang menyebabkan pasar tablet melambat. Pertama, konsumen masih memiliki tablet mereka, tertutama model dengan harga mahal dari vendor ternama sehingga pemakaiannya jauh lebih lama dari yang diantisipasi. Faktor kedua adalah munculnya phablet,” kata analis IDC, Tom Mainelli, seperti dikutip dari Gadget NDTV.
Kendati demikian, tidak semua orang menginginkan smartphone dengan layar yang lebih besar, termasuk phablet. Tidak sedikit pengguna justru lebih memilih smartpone dengan diagonal layar antara 4-inci hingga 4,5 inci. Mayoritas beralasan, ukurannya lebih ringkas dan mudah bila dimasukan atau dikeluarkan dari saku celana. Jadi, tidak perlu dimasukan ke dalam tas, bila muat di dalam saku. Selain itu, smartphone tipe tersebut juga lebih solid bila dipegang dengan satu tangan, termasuk untuk mengetik.


Layanan Cloud Acer Ubah PC Pengguna Jadi Mini-Server

Acer mulai serius memasuki bisnis layanan cloud konsumen, namun dengan konsep layanan yang sedikit radikal. Pihaknya baru saja mengumumkan layanan BYOC (Build Your Own Cloud)yang memungkinkan pengguna bisa membangun server cloud atau penyimpanan online-nya sendiri.

Tidak seperti layanan penyimpanan online lainnya, seperti Dropbox, OneDrive, maupun Google Drive, Acer akan menyimpan semua data langsung ke pengguna PC dan akan berfungsi sebagai pusat data. Pengguna bisa menjadikan perangkat PC mereka sebagai mini-server mereka sendiri. Jadi, ini bukan melalui server yang disediakan perusahaan, melainkan PC pengguna. Teknologi ini juga bukanlah sebuah aplikasi dekstop yang dapat mensinkronisasikan file manager PC lalu dikirim cloud server pengembangnya.

Dengan begitu, file tertentu yang tersimpan di PC pengguna bisa diakses langsung dari jauh via smartphone maupun tablet, asal terkoneksi dengan internet. Belum diketahui pasti, apakah nantinya layanan tersebut mengharuskan PC pengguna dalam keadaan tetap hidup bila file-nya ingin diakses dari smartphone atau ada alternatif lain.

Yang cukup menarik, Acer tidak mensyaratkan layanan tersebut mesti terhubung ke perangkat Acer, baik PC maupun smartphone. Layanan ini nantinya akan berada di bawah merek “ab”, yang merupakan singkatan dari Acer dan BYOC.
“Sebelumnya, hanya pemilik perangkat Acer saja yang bisa menggunakan aplikasi ini. Namun mulai saat ini, Anda tidak perlu lagi memiliki sebuah perangkat Acer“, ujar Maverick Shih, Presiden Layanan Cloud dan Bisnis Tablet Acer, seperti dikutip dari PC World.

Melalui layanan tersebut, pengguna bisa menyimpan foto, musik, dokumen Microsoft Office, dan sejumlah file lainnya di perangkat PC. Setelah itu, pemilik smartphone berbasis iOS atau Android cukup mengunduh aplikasi mobile-nya dari masing-masing toko aplikasi resmi agar bisa terhubung dengan file di PC.

Acer memberikan aplikasi cluod tersebut secara gratis maupun berbayar, tergantung dari sejumlah fitur yang ditawarkan ke pengguna. Aplikasi juga tersedia secara pra-instal di perangkat Acer terbaru. Rencananya, layanan cloud terbaru ini akan tersedia secara massal pada akhir Juni mendatang. “Sekarang, kami menjual perangkat lunak ke konsumen di saat kita benar-benar mulai melakukan bisnis dengan mereka“, ujar petinggi Acer tersebut.


Sumber : http://www.jagatreview.com/2014/06/layanan-cloud-acer-ubah-pc-pengguna-jadi-mini-server/

Presiden AS – Obama Puji Kualitas The Witcher 2

Kualitas memang tidak pernah berbohong dan selalu menjadi alasan utama mengapa seorang gamer akhirnya jatuh cinta pada produk tertentu. Sebagian besar gamer tidak peduli dari developer dan publisher raksasa mana sebuah game dilahirkan, sejauh ia mampu menawarkan pengalaman bermain yang begitu kuat. Salah satu yang berhasil mencapai popularitas tersebut adalah CD Projekt lewat proyek andalan mereka – The Witcher. Popularitas dasar yang berhasil dibangun sang seri pertama kian disempurnakan oleh kehadiran The Witcher 2 yang tampil lebih baik, hampir di semua elemen. Popularitas yang bahkan sempat membuat Perdana Menteri Polandia sendiri memberikannya sebagai hadiah kenegaraan kepada Presiden Amerika Serikat – Barack Obama.

Momen ini tentu saja menjadi sebuah “monumen” yang unik, ketika produk kreatif seperti video game dianggap pantas untuk mewakili kebanggaan nasionalisme negara tertentu. Tentu event tahun 2011 ini memicu pertanyaan lebih besar, apa yang dilakukan Obama dengan game The Witcher 2 ini?

Dalam kunjungannya kembali ke Polandia, Obama ternyata tidak lupa dengan hadiah sang Perdana Menteri – Donald Tusk ini. Obama secara terbuka mengakui bahwa ia bukanlah seorang gamer yang cukup lihai dan pengetahuannya soal Witcher 2 hanya sebatas fakta bahwa ia menjadi seri yang dicintai oleh banyak gamer di seluruh dunia. Walaupun demikian, ia juga menegaskan bahwa The Witcher 2 menjadi bukti nyata akan kekuatan Polandia di ekonomi global saat ini dan talenta warganya sendiri.

CD Projekt sendiri saat ini tengah menyempurnakan The Witcher 3: Wild Hunt yang direncanakan akan dirilis pada tahun 2015 mendatang. Time to play it and post your own review, Obama?

Sumber : http://jagatplay.com/2014/06/news/presiden-as-obama-puji-kualitas-the-witcher-2/

Pabrik Motorola Di Tezas Di Tutup

Dengan alasan rendahnya penjualan dan biaya produksi yang terlalu tinggi, Motorola dikabarkan akan menutup pabriknya di Fort Worth, Texas Utara, akhir tahun ini. Pabrik tersebut belum setahun beroperasi dan dibangun untuk memproduksi Moto X. Saat itu, Motorola yang baru saja diakuisisi Google mengggembar-gemborkan bahwa pabrik tersebut akan menjadi pabrik pertama yang digunakan untuk memproduksi smartphone di Amerika Serikat meskipun sudah diketahui bahwa biaya produksi di negara Paman Sam tersebut akan sangat tinggi.

Padahal dalam setahun terakhir,  Motorola cukup sukses menghadirkan dua smartphone terbarunya, Moto G dan Moto E. Terobosan Motorola dalam menghadirkan smartphone berkualitas namun berharga terjangkau tersebut cukup mendapat sambutan positif dari pasar.

Pabrik tersebut pernah mempekerjakan 3800 pegawai namun kini hanya menyisakan 700 orang pegawai saja yang mengerjakan pesanan Moto X. Pabrik itu sendiri dijalankan oleh Flextronics International Ltd. perusahaan asal Singapura yang dikontrak Google untuk mengoperasikannya. Google menampik bahwa penutupan pabrik tersebut terkait dengan perpindahan tangan Motorola ke Lenovo.

Menurut Rick Osterloh, Presiden Motorola kepada Wall Street Journal, Motorola mengakui bahwa pasar Amerika Utara sangat berat. Hal tersebut memang masuk akal karena memproduksi piranti di Amerika Serikat memang tidak murah sama sekali. Dan perusahaan tersebut saat ini tengah fokus untuk merilis piranti untuk kelas pemula yang notabene berharga terjangkau. Untuk Moto G saja ‘hanya’ dibanderol dengan harga US$219, sedangkan Moto E dibanderol dengan harga yang lebih murah lagi, yakni US$129. Kedua smartphone tersebut meraih banyak sukses di negara berkembang seperti India dan negara Asia lainnya. Konsep dari smartphone tersebut memang dibuat di Amerika Serikat dan banyak ponsel lainnya yang didesain di sana. Perakitan menjadi tahap akhir dari proses produksi, namun dengan pabrik di Amerika Serikat, Motorola bisa memberikan stempel ‘Made in the USA’ untuk smartphonenya. Biaya tersebut membengkak untuk chip, baterai dan display yang sebenarnya dibawa dari Asia sehingga jika dinalar memproduksi smartphone tersebut di Amerika Serikat menjadi tidak masuk akal.

Dalam keterangannya Google menyatakan, bahwa mereka masih akan memproduksi smartphone di pabriknya tersebut, namun hanya akan membuat piranti yang sudah dipesan dan akan dibuat lalu didistribusikan ke semua tempat di Amerika Serikat dalam waktu lima hari. Direncanakan, Motorola Mobility akan melanjutkan mengembangkan Moto X di Brazil dan Cina agar ongkos tenaga kerja dan pengapalan tidak terlalu tinggi.


Polisi Manfaatkan Twitter Untuk Mengkap Pencuri

Untuk negara maju seperti Amerika Serikat, jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter kini dimanfaatkan polisi sebagai salah satu sarana untuk melacak tindak kejahatan. Kepolisian setempat memiliki divisi khusus yang bertugas mempelajari jejaring sosial yang bisa dikaitkan dengan penyelidikan suatu kasus. Tercatat di tahun 2013, sebanyak 96% departemen kepolisian di Amerika Serikat sudah memanfaatkan media sosial untuk mengungkap kasus kejahatan, serta 80% meyakini bahwa media sosial bisa membantu memecahkan sebuah kasus kriminal.

Baru-baru ini kepolisian di San Fransisco, Amerika Serikat juga memanfaatkan Twitter untuk memata-matai pencuri. Dan akhirnya bisa menangkap pencuri sepeda yang tengah beraksi. San Fransisco merupakan salah satu kota yang sangat marak dengan pencurian sepeda. Laporan kasus pencurian tersebut terus mengalir setiap hari ke kepolisian setempat. Tercatat pada 2012 saja, diperkirakan ada 4085 sepeda yang dicuri di kota tersebut dengan kerugian mencapai $4.6 juta. Menurut New York Times, angka pencurian tersebut meningkat 70% dibandingkan tahun 2006.

Akhirnya, Departemen Kepolisian San Fransisco membuat program bernama Anti-Bike Theft Unit yang bertujuan untuk menangkap para pencuri sepeda yang berkeliaran di kota tersebut. Program tersebut memanfaatkan Twitter dan GPS tracker untuk menggagalkan setiap pencurian sepeda yang akan terjadi.
Seorang polisi bernama Matt Friedman yang menjalankan program tersebut menggunakan sebuah sabuk utilitas yang dipasang di sebuah sepeda umpan. Sabuk tersebut dilengkapi dengan GPS pelacak dan sepeda yang dijadikan umpan dibiarkan terparkir dan terkunci di sebuah jalanan di San Fransisco. Umpan tersebut akan memungkinkan Friedman dan Anti-Bike Theft Unit melacak saat sepeda tersebut dicuri, secara real-time, dan kemudian bisa langsung menangkap pencurinya.

Dan benar saja, tak berapa lama kemudian sepeda tersebut dicuri. Namun dengan sistem yang sudah dipasang di sepeda tersebut, polisi dengan mudah bisa melacak keberadaan sepeda, berikut si pencurinya. Setelah ditangkap, foto para pencuri kemudian diposting di akun Twitter @SFPDBikeTheft. Selain mempermalukan si pencuri karena wajah mereka terpampang secara umum, akun Twitter tersebut juga memposting tweet tentang saran dan tips untuk mengamankan sepeda, seperti teknik mengunci sepeda dengan baik, mendaftarkan nomor serial sepeda ke polisi dan menempelkan stiker ‘Apakah ini sepeda umpan?’ di sepeda untuk menakuti para pencuri.

Kota San Fransisco sendiri tengah mencanangkan rencana lima tahun untuk membuat kota tersebut lebih mudah diakses para pengguna sepeda. Peningkatan jumlah pengguna sepeda memang cukup pesat sehingga jumlah pencurian pun ikut meningkat tajam. Sejak Juli setahun lalu, San Fransisco telah mendapatkan dana dukungan sebesar $75,000 untuk melawan pencurian sepeda di kota tersebut dan diharapkan bisa menurunkan angka pencurian sebanyak 50% pada Agustus 2018. Hal tersebut pula yang mendorong Kepolisian San Fransisco membuat program Anti-Bike Theft Unit.


Jepang Siap Hadirkan Tv 4k dan 8k

Jepang memang selalu membuat gebrakan inovasi dalam teknologinya. Setelah menjadi yang pertama memopulerkan standarisasi teknologi gambar visual beresolusi 4K dan 8K, kini Jepang mulai menggelar uji coba siaran program televisi (TV) dengan resolusi digital 4K. Setelah itu, dengan menggandeng industri lokal, pihaknya bersiap merampungkan proyek uji coba siaran TV 8K dalam dua tahun mendatang.

“Saya pikir ini luar biasa bahwa penyiaran 4K melalui satelit akan tersedia di rumah-rumah secara nasional untuk pertama kalinya di dunia. Kami akan terus mengupayakan siaran penuh 4K dan uji penyiaran 8K pada 2016,” kata Yoko Kamikwa, Wakil Menteri Departemen Komunikasi Negara.

Proyek konsorsium (usaha bersama) ini memang disponsori langsung oleh Pemerintah Jepang melalui departemen komunikasi. Langkah ini juga sebagai upaya Pemerintah Jepang guna menyelamatkan industri TV mereka yang tengah merosot, termasuk Sony, akibat gempuran produk-produk TV buatan Korea Selatan dan Cina.
Oleh karena itu, sejumlah produsen TV, stasiun penyiaran TV, dan pengusaha telekomunikasi di Jepang akan bergabung dalam konsorsium ini. Tujuannya, agar siaran TV semakin berkualitas 16 kali lipat lebih baik dari standar tayangan ada saat ini dan bisa mengudara di seluruh Kepulauan Jepang, juga dinikmati oleh 128 juta warga Jepang

“Industri Jepang harus bertahan hidup dalam lingkungan industri (TV) yang parah ini,” ujar Katsuaki Watanabe, mantan Presiden Toyota dan Chairman (emeritus) NexTV-F yang memimpin konsorsium uji coba tayangan program TV 4K. Ia menambahkan, lembaga penyiaran juga masih berhati-hati dalam menggelontorkan investasi besar, di tengah industri TV lokal yang sedang carut-marut.

Kendati demikian, minat masyarakat Jepang terhadap tayangan visual TV 4K memang sedang tinggi. Hal ini dibuktikan dari hasil penjualan TV 4K Sony yang cenderung lebih baik dari model low-end. Dan memang produk premium itulah yang mampu  menyelamatkan bisnis TV Sony dalam setahun terakhir ini.