Jumat, 02 Maret 2012

Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar

Bertitik tolak dari kerangka tujuan yagn telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu adalah :
1.Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya
2.Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing jaman dan tempat.
Menilik kedua pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan alam, dengan sesame, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan dengan sang pencipta menjadi tema sentral dalam IBD. Pokok-pokok bahasan yang dikembangkan adalah :
1.Manusia dan cinta kasih
2.Manusia dan Keindahan
3.Manusia dan Penderitaan
4.Manusia dan Keadilan
5.Manusia dan Pandangan hidup
6.Manusia dan tanggungjawab serta pengabdian
7.Manusia dan kegelisahan
8.Manusia dan harapan

Sumber : http://massofa.wordpress.com/2008/10/21/pengertian-tujuan-dan-ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar/

Tujuan Ilmu Budaya Dasar

Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam pengetahuan budaya (the humanities) akan tetapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nlai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri. Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat :
1.Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka
2.Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
3.Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bagnsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat
4.menguasahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancer dalam berkomunikasi.

Sumber :  http://massofa.wordpress.com/2008/10/21/pengertian-tujuan-dan-ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar/

Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar


Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang astinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari th humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :
1.Ilmu-ilmu Alamiah ( natural scince ). Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hokum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah
2.Ilmu-ilmu sosial ( social scince ) . ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100 5 benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.
3.Pengetahuan budaya ( the humanities ) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.
Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disilpin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai hiding keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik,dll. Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu budaya daar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Ingngris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahas inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

Sumber : http://massofa.wordpress.com/2008/10/21/pengertian-tujuan-dan-ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar/

Rabu, 21 Desember 2011

Hepatitis A Melanda Kota Depok

 Baru-baru ini, penyakit hepatitis A yang memwabah di kota Depok menghebohkan para warganya. Serangan virus hepatitis A di SMAN 4 Depok terjadi sejak 22 November. Ketika itu ada salah satu seorang siswa kelas 12 IPA 3 lemas sehingga kemudian tidak masuk sekolah. Sebanyak 32 siswa terkena gejala yang sama.
 Awal November lalu, serangan virus hepatitis A juga menyerang SMKN 2 Depok. Sebanyak 20 siswa dinyatakan positif. Pemerintah menetapkan status luar biasa akibat kejadian tersebut.
 Oleh karena itu, mari kita cegah wabah tersebut agar tidak membahayakan orang-orang disekitar kita.

Menanam Pohon Untuk Hidup Lebih Baik

 Indonesia dan Brasil adalah ujung tombak untuk menahan kerusakan ozon. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan dengan populasi 10% hutan tropis dunia yang tersisa, hutan indonesia merupakan salah satu yang terbesar kedua setelah Amazon, Brasil.
 Namun, ironisnya Indonesia juga penghancur hutan tercepat didunia munurut data State of the World's forest 2007 yang dikeluarkan Food and Agriculture Organization(FAO). Hutan Indonesia rata-rata hancur 51 kilometer, setara luas 300 lapangan bola setiap jam.

 Masalah Indonesia bukan hanya itu. Sampah adalah masalah lingkungan hidupyang selanjutnya. Tepat pada tahun ini, jumlah penduduk dunia mencapai 7 miliar orang. Masalah ini belum selesai sampai disitu masih ada masalah erosi, banjir, longsor, dan lainnya.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mencanangkan gerakan penanaman 1 miliar pohon sebagai dukungan terhadap pelestarian lingkungan hidup. Namun bukan hanya pemerintah saja yang melakukannya. Tetapi warga Indonesia pun harus menanam pohon. 

Pendidikan Anak Bangsa

Jumlah siswa miskin di Indonesia mencapai hampir 50 juta orang. Diantaranya, ada sekitar 2,7 juta siswa tingkat SD dan 2 juta siswa tingkat SMP yang terancam putus sekolah.

 Sejak dua tahun lalu, Pertamina turut menjadi donatur dan mengalokasikan dana sebesar Rp 5 miliar untuk program 5 tahun. Dana tersebut digunakan untuk jenjang pensisikan SD kelas 5-6 dan SMP kelas 2-3 dengan total 172 anak. Tahun 2011 merupakan tahun kedua memberikan beasiswa.
 Selain kemiskinan, hal lain yang menjadi keprihatinan terkait pendidikan adalah pendidikan usia dini. Anak usia dini kini lebih sering diasuh oleh pengasuh sehingga mendapatkan edukasi yang minim. Disatu sisi, anak usia dini membutuhkan bimbingan khusus sebelum menempuh pendidikan di sekolah dasar. Pendidikan usia dini itu bisa menjadi dasar bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak sebelum anak tersebut melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. 
 Oleh karena itu, Pemerintah wajib merubah pola pendidikan di negara ini. Untuk menciptkan Indonesia yang maju dan berideologi.
 Mulai saat ini, mari kita membantu pemerintah agar mampu merubah pendidikan indonesia menjadi lebih baik dari tahum ke tahun.

Selasa, 18 Oktober 2011

Masih Pentingkah Keperawanan?

Seiring perkembangan zaman, banyak nilai hidup yang kian bergeser dibanding masa orangtua kita dulu. Salah satu yang bergeser adalah nilai keperawanan.

Keperawanan bukan isu perdebatan baru dalam kehidupan sosial. Kita ingat beberapa waktu lalu, tes keperawanan sempat dilontarkan seorang anggota DPRD Jambi untuk dilakukan kepada calon siswi SMU di Jambi. Wacana ini kemudian tenggelam setelah menuai banyak kritik. Atau baru-baru ini, artis Dewi Persik yang dengan bangga mengumumkan dirinya baru saja melakukan operasi keperawanan.

Di tengah gempuran budaya dari luar serta akses informasi yang kian mudah, adakah nilai keperawanan semakin penting di masa kini? “Indonesia sendiri mengalami pergeseran nilai soal keperawanan, tapi menurut saya, Indonesia masih konservatif, jumlahnya masih lebih besar yang mengagungkan keperawanan daripada yang tidak,” kata Mgr Erita Narheltali SPsi, Koordinator Program Magister Psikologi Intervensi Sosial FPSI UI ketika dihubungi okezone lewat ponselnya, Senin (6/6/2011).

“Menjadi yang pertama kayaknya seksi, bikin ego seorang pria semakin tinggi, powerful, dan seolah-olah ia berkata ‘I can control you’,” tukasnya.

Nilai demikian, menurut Erita, berbeda dengan apa yang diagungkan tradisi Barat. Ketika berpacaran dengan seorang wanita Timur, sebagian pria Barat justru khawatir menjadi orang yang pertama memeroleh keperawanan.

“Mereka tahu bahwa kita belum seperti mereka yang menyamakan pacaran dengan seks. Mereka tidak mau menjadi orang yang berarti dalam hidup seorang wanita. Pertama, mungkin karena ada niat ninggalin si wanita atau kedua, tidak mau terbebani dengan norma sosial bahwa kalau sudah ‘menodai’, maka dia harus menikahi wanita itu,” paparnya.

Selain latar belakang budaya, ada lagi yang memengaruhi cara pandang pria soal keperawanan.

“Seorang pria yang makin tidak melihat masa lalu, maka pengalaman seks dan keperawanan pasangannya tidak akan terlalu ia pusingkan. Ia akan lebih memerhatikan kepribadian dan karakter, nilai yang menurutnya lebih penting dalam diri seorang pasangan,” imbuhnya.

Kepribadian seorang wanita lebih diperhatikan ketika pria turut memerhatikan fakta bahwa hilangnya keperawanan tidak selalu akibat penetrasi Mr P, tapi bisa juga oleh aktivitas fisik ekstrem.

“Karena cinta tidak hanya urusan ketertarikan fisik, tapi kita bisa lihat sesuatu yang beyond, karakter, dan kepribadian,” tukasnya.

Dua alasan menjadi kunci jawaban dari perbedaan seorang pria dalam menilai keperawanan.

“Keterbukaan dengan perbedaan nilai yang dimiliki budaya lain dan nilai apa yang dipandang seorang pria lebih tinggi, jika keperawanan adalah nilai terpenting, maka dia tidak akan melihat faktor lain,